Rabu, 31 Oktober 2012

PERMATA BERLAPIS NODA

Minggu, 22 Juli 2012

PERMATA BERLAPIS  NODA

Beranda rumah ini terasa sejuk sekali. Kunikmati semilir angin yang membawa segelintir air  sisa  hujan siang tadi. Aroma tanah basah juga terasa melengkapi indahnya senja ini. Ditemani secangkir kopi capucino hangat, dan sepotong kue yang tersisa dari kulkas, oleh-oleh anaku yang kuliah di Jogja. Aku menikmati indahnya kehidupan,  dibalik peristiwa kelam masa laluku.
Bu Hajah Joko, begitu sebagian orang kampung biasa memanggilku. Tukang sayur bahkan selalu memanggilku dari luar tembok rumah dengan sebutan “Burik”!. Terdengar unik dan lucu memang, tapi aku suka mendengarnya, karena aku memang mantan istri Carik. Tak apalah, karena kurasakan akrab dan tak ada kesenjangan ekonomi maupun status. Meskipun aku sudah lima kali naik haji.
Sebenarnya sebutan Hajah bagiku bukan sekedar embel-embel karena aku sudah menunaikan rukun Islam yang ke lima. Tetapi aku merasa ibadahku belumlah cukup menebus dosa-dosa yang lama terukir dan tercatat malaikat  Rokib. Catatan dosa dalam ingatanku saja belum terbayar oleh ibadah Haji dan ketekunanku beribadah serta bershodaqoh, apalagi dosa yang tak ku ingat ?
Entah berapa kali aku menyakiti perasaan orang lain tanpa mempedulikan risiko yang terjadi pada mereka. Apalagi jika aku mengingat orang tuaku, ingin sekali menghujat dan menyakiti hati dan perasaan mereka hingga mati berdiri karena tak kuasa menahan perihnya hati. Semua itu karena orang tuaku !!! ah…….betapa pahitnya mengingat semua itu.
Peristiwa masa lalu itu kunilai murni kesalahan orang tuaku. Ibuku yang seorang gadis kampung, yang sempat menjadi bunga desa Trayun (kata mbah Wiro, tetangga sebelah rumah nenek), adalah sosok gadis yang begitu cantik dan menawan, Banyak pemuda tampan dan kaya yang naksir ibuku. Bahkan kata nenekku, (yang sempat kutemui dan kurawat selama 2 tahun, sebelum beliau meninggal), dulu ada pemuda yang bunuh diri gara-gara cintanya ditolak ibuku. Tragis memang. Seorang gadis desa yang karena kecantikannya mampu membuat anak seorang kepala desa bunuh diri.
Rasanya kecantikan dan pesona ibuku sudah jelas tergambar dari peristiwa tersebut. Namun kecantikan yang dimiliki ibuku ternyata tak sepadan dengan namanya yang indah, yaitu Sri (hanya Sri). Ibuku jadi sosok gadis yang sombong, angkuh, cuek, kejam, dan suka mempermainkan pria yang mencintainya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. “HARTA”.
Beberapa kali lamaran pemuda desa  ditolak ibuku, dengan dalih tak sepadan dengan kecantikan yang dimilikinya. Pernah suatu ketika, datang mandor Tebu yang bernama Larmo dari desa Kayutan, datang melamar ibuku dengan ditemani mbah Wiro dengan membawa hantaran ala kadarnya. Ia bermaksud melamar ibuku untuk anaknya Joko yang bekerja  di pabrik tebu. Namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh ibuku, dengan cara yang tidak sopan. Ibuku melempar semua hantaran lamaran, dan memaki-makai dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan seorang wanita.
“Bawa pulang makanan-makanan anjing itu. Aku tak doyan memakannya, berikan pada anjing di hutan sana ! dan katakan pada anakmu, Sri pantang menikah dengan orang kampung, dekil dan miskin seperti kalian !! seru ibuku sambil melempar makanan itu.
Tak dapat terbayangkan betapa malu dan murkanya nenekku mendengar pernyataan itu. Dengan serta merta nenekku menahan tangan Sri, dan menampar wajahnya. Namun yang terjadi justru diluar dugaan. Sri justru membalas tamparan itu lebih keras serta mendorong tubuh nenek hingga tersungkur dan jatuh tepat di tepi dipan yang terbuat dari kayu jati tua. Benturan itu menimbulkan luka yang cukup parah pada nenekku, dan tanpa ada perasaan bersalah, Sri lari meninggalkan rumah tanpa peduli bagaimana nasib ibunya. Dari mbah Wiro aku tahu, justru pak mandor yang membawa nenek ke pak Haji Shomad, seorang Ustad sekaligus seorang tabib.
Sri yang sombong itu terus berlari tanpa tahu arah. Ia bertekad untuk pergi dari desa yang menurutnya kampungan itu. Hingga langkahnya terhenti ketika ia melihat sekelompok pemuda naik mobil melaju di jalan menuju ke desanya. Ia menghentikan mobil itu dengan cara menghadang di tengah jalan. Kontan saja laju mobil itu terhenti secara tiba-tiba.
“ Ada apa dik ?” Tanya seorang pemuda tampan berjaket biru, dengan setengah berlari menutup pintu mobil dan menghampiri ibuku.
“ Tolong saya mas, saya mau pergi jauh dari kampung ini” ujarnya dengan nafas terengah-engah.
“Lho ada apa to ? ayo masuk dulu ke mobil saya, dan jelaskan masalahmu “ ajak pemuda tampan itu sambil memegang bahu Sri. Tatapan mata Sri jadi tertuju dan terpesona dengan ketampanan dan sikap pemuda itu.
Mobil melaju pelan ke arah desa Trayun. Tiba-tiba, ketika mobil memasuki tugu masuk desa Trayun, Sri minta mobil dihentikan. “ Jangan bawa saya balik ke desa yang kampungan itu mas ! saya takut !”
“ Ok. Saya tepikan dulu mobilnya, dan ceritakan dulu masalahmu. Toh kami tidak terburu-buru”, ujar pemuda itu dengan tatapan penuh simpatik. Sementara teman temannya yang berjumlah enam itu hanya berdehem sesekali, seakan menyindir pemuda itu.
“Nah, sekarang ceritakan masalahmu, kita dengarkan. Tapi kenalkan dulu, nama saya Prambudi, teman saya yang kribo itu Susanto, yang pakai kacamata itu Rudi, yang berkumis itu Roni, dan yang bertubuh kerempeng itu Mamad alias Kyai dan yang terakhir yang paling ganteng dan dari tadi diam itu namanya Kiddy, tapi nama kampungnya Sukidi“, ujar pemuda itu memulai pembicaraan.
“ Nama saya Sri mas, saya dilahirkan dengan kesalahan besar. Karena saya lahir di kampung yang penduduknya tentu saja kampungan. Saya tadi melarikan diri karena saya mau diperkosa pemuda kampung anak mandor tebu. Saya tidak mencintainya mas. Bagaimana mungkin saya mencintai pemuda kampung. Saya pingin pergi jauh dan menjadi yang kayak di tivi-tivi itu, saya pingin dilihat orang banyak dan punya uang banyak”. Ujar Sri panjang lebar tanpa takut berbohong.
“ Ingin jadi artis maksudmu ?” Tanya Prambudi buru-buru sambil sedikit kaget dan mengamati lekuk tubuh Sri yang memang aduhai, meski terlahir sebagai gadis kampung.
“ Tapi arah kami mau ke desa Trayun dik. Dan itu desamu. Cita-citamu itu salah dan dosa besar dik. Segeralah Istighfar”, cletuk pemuda kerempeng yang sedikit berjenggot yang biasa dipanggil Kyai.
“Saya tidak peduli mas, saya mau meninggalkan simbok dan kampungku. Saya malu jadi orang kampung!” tagas Sri sedikit berteriak.
“ Sudah-sudah jangan berantem di jalan. Sekarang begini saja, dik Sri tetap pulang kampung, terus dik Sri bisa berteman dengan kita yang pemuda kota. Nanti kalau dik Sri sudah tahu bagaimana kehidupan kota, dik Sri boleh ikut kita ke kota dan jadi artis seperti keinginanmu. Tapi sekarang dik Sri pulang dulu ke simbok, dan minta maaf dulu ya. Bener kata Kyai, dosa lho melawan ibunya sendiri” kata Rudi pemuda yang berkumis tipis dan berbadan gelap itu sampil berkedip member kode pada teman-temannya supaya meng-iyakan.
“ Tapi saya nanti di antar sampai rumah ya mas, pakai mobil ini”, katanya dengan sedikit memohon.
“ Biar semua warga tahu, kalau Sri pantasnya jadi orang kota dan naik mobil”, lanjutnya.
“ Baiklah dik Sri, sekarang ayo kita meluncur menuju ke desamu. Kamu nanti ndak usah bilang apa-apa. Kamu langsung minta maaf dengan ibumu aja”, tukas Prambudi.
Mobil Jimmy butut itu melaju pelan menyusuri jalan menuju desa Trayun, sebelum akhirnya melewati jalan berbatu yang lumayan sulit dilalui dan diapit bentangan sawah yang cukup subur.
Sementara itu, di rumah nenekku, beberapa orang masih bergerombol di dalam maupun di teras rumah. Di dalam rumah, mbah Wiro masih mencoba menenangkan hati mbah ku yang sakit hati dengan ibuku, Sri. Dari mbah Wiro, aku tahu, sempat nenekku mengumpat dan mengutuk anaknya.
“Anak setan !! anak tak tahu diri ! masih bagus dia aku pungut dari tengah hutan, aku pelihara dan kuanggap anakku sendiri, sekarang bukannya mengabdi dan patuh padaku, malah bikin hati orang tua sakit !, tahu akan jadi anak durhaka, dulu aku biarkan saja Sri mati diterkam harimau!”, teriak nenekku sambil menangis dan memegangi kepalanya yang diperban.
Sementara itu di teras rumah, kepala dukuh, pak mandor, dan beberapa tetangga masih ngobrol sambil mengutuk kelakuan Sri yang tak berbudi, sebagai anak angkat nenekku.
“ Mungkin Sri itu anak pelacur yang hamil tanpa suami, atau anak orang gila yang yang kebetulan melahirkan di hutan, jadi maklum saja kalau dia bakatnya besok melacur atau jadi orang gila rupa dan harta”, kata salah satu penduduk yang ikut nimbrung di situ. Dan masih banyak lagi umpatan warga untuk mengutuk kelakuan Sri, Ibuku.
“Sudahlah, tidak ada gunanya membahas itu, sekarang tugas kita menenangkan hati mbah Marju yang ditinggal Sri. Kasihan dia, sudah janda, gak punya anak, eh sekalinya punya anak angkat, durhaka! ”, kata kepala dukuh Giyono yang rambutnya sudah memutih semua
Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat mobil Jimmy yang melaju semakin pelan, yang akhirnya berhenti tepat di depan rumah nenekku. Beberapa pasang mata berdiri sambil menatap kearah pintu mobil dan menunggu siapa yang datang.
Seorang pemuda keluar dari pintu kanan mobil. Memakai jaket berwarna biru tua, kemudian diikuti dibukanya pintu mobil belakang yang juga keluar beberapa pemuda berjaket sama. Jumlah pemuda itu ada 6 orang. Mereka langsung bertanya pada pak Giyono yang memang berdiri di paling depan.
“Assalamualaikum pak, bolehkah saya bertanya, apakah benar ini desa Trayun? “ tanya Kiddy alias Sukidi dengan santun.
“Oh..benar mas, ini desa Trayun. Maaf kalau boleh saya Tanya, mas ini siapa dan ada maksud apa datang ke desa kami? Maaf banyak pertanyaan saya mas, karena desa kami jarang kedatangan orang kota” kata pak Giyono tak kalah santunnya.
“Oh maaf pak, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Kiddy, teman teman saya namanya Rudi, Roni, Mamad, Prambudi, dan yang masih di mobil Susanto. Dia masih tertidur. Kami mahasiswa UGM dari Fakultas Teknik Mesin dan Fakultas Kedokteran. Kami ditugaskan dari kampus kami untuk mengabdi di desa Trayun untuk membuat saluran air, pengadaan air bersih, dan tenaga listrik tenaga air terjun, serta penyuluhan kesehatan masyarakat. Karena kami tahu dari data  di kampus, desa ini sulit air,  belum ada listrik serta banyak warga masyarakat yang sakit tapi tidak mau periksa ke puskesmas. Saya membaca di sebuah buku,  ada tiga air terjun yang sangat besar dibalik bukit desa Trayun ini” jelas Kiddy sok ilmiah.
“Iya benar mas, tapi mbok monggo  masuk dulu dirumah mbok rondo Marju. Tapi maaf rumahnya sedikit kotor dan kacau mas. Maklum tadi baru ada peristiwa memalukan.” ajak pak Giyono sambil mempersilakan tamu magang atau KKL (Kuliah Kerja Lapangan) tersebut masuk ke rumah mbah Marju.
“Memang ada peristiwa apa pak ?” Tanya Prambudi memancing pembicaraan, meski dia sudah tahu dari Sri, yang sengaja dilarang masuk oleh Prambudi, sebelum keadan aman dan bisa diterima.
Pak Giyono tidak langsung menjawab, tapi membiarkan pemuda-pemuda tersebut duduk di dalam rumah dan tatapan mata pemuda-pemuda itu terkesiap melihat dua orang yang sudah cukup tua, kira-kira berumur 50 hingga 60 tahun tersebut. Yang satu memakai kebaya kuno dan bersusur, duduk memegangi seorang nenek yang matanya sembab, dan pelipis kepalanya diperban cukup tebal. Dari balik perban itu masih tampak sisa darah yang sudaha mengering. Mungkin belum sempat dibersihkan, atau mungkin juga masih merembes darahnya karena pengobatan yang kurang tepat.
“Kenalkan, itu yang berbaju hitam namanya mbah Wiro, tetangga mbah Marju yang punya rumah. Tentang apa yang terjadi di rumah ini, ada baiknya mbah Marju yang menjelaskan sendiri, itupun kalau mbah Marju mau”, kata pak Giyono setengah berharap, mbah Marju mau menceritakan kejadian itu pada pemuda KKL tersebut.
Perlahan mbah Marju berjalan mendekati pemuda-pemuda itu, dan duduk di ujung dipan yang terletak tak jauh dari kursi tamu kota tersebut. Dengan menghela nafas yang dalam, mbah Marju mulai berbicara lirih.
“Maaf nak, sebenarnya peristiwa yang saya alami ini tidak hanya sekali ini saja. Namun hari ini Sri sungguh keterlaluan“ ujar mbah Marju dengan suara dalam seakan menahan beban hidup yang menumpuk. Ia memulai pembicaraan.
Dari suaranya Kiddy dan teman temannya sudah bisa menebak bahwa Sri adalah dipihak yang salah. Meski mbah Marju belum menceritakan semuanya. Dan mbah Marju adalah ibu yang tabah dan kuat menjalani hidup.
“Saya itu janda mas. Suami saya cuma mandor tebu, sebelum akhirnya sekarang digantikan pak Larmo dari desa Kayutan yang tadi pagi melamar Sri untuk anaknya Joko. Meninggalnya suami saya, mandor Marju, juga karena Sri…hu…hu…”, tangis mbah Marju tak terbentung lagi sambil menutupi wajahnya.
Pak Giyanto sedikit terperanjat dengan pengakuan mbah Marju, karena ia pikir selama ini, kematian mandor Tarju murni karena masuk angin, karena sering menginap di lahan tebu.
“ Ayo mbah, kuasai dirimu dan ceritakan dengan gamblang, supaya kita bisa menghukum Si Sri sialan itu !” kata pak Giyono sedikit keras.
“Sri bukan anak saya !! warga sini semua tahu, namun Sri tidak tahu, karena warga menghargai dan menghormati keinginan saya untuk menyimpan rahasia ini. Saya sangat mencintai Sri, karena saya tidak punya anak. Saya sangat memanjakan Sri. Mungkin itu kesalahan terbesar saya, meskipun suami saya sudah sering mengingatkan untuk tidak memanjakan Sri. Tapi saya tidak tega, karena saya sangat mencintai anak itu. Bahkan sampai sekarang. Saya menemukan Sri ketika suami saya sedang mencarikan kayu bakar saya, sore itu. Kata suami saya, dia berjalan menyusuri hutan, sampai dalam jauh, karena ranting kering ditepi hutan tidak ada. Ketika itu sudah menjelang magrib. Akhirnya ditengah hutan, suami saya mendapatkan ranting kering meski sedikit basah, karena habis hujan. Karena sudah gelap, suami saya bermaksuh menjalankan Sholat Magrib di hutan. Ia mencari mata air untuk Wudhu. Ketika ia berjalan ke arah grojogan di tengah hutan itu, ia mendengar suara harimau berkali-kali, dan kelihatannya tidak hanya satu. Suami saya merasa ada yang aneh. Kemudian ia mencari arah suara itu, dan ternyata tidak jauh dari grojogan itu. Ia melihat tiga harimau besar sedang mengelilingi timbunan semak-semak yang bergerak-gerak. Merasa ada yang aneh, suami saya mencoba berbicara pelan dengan harimau itu dengan mata ilmu yang dimiliki ketika jadi pawang macan dulu. Karena suami saya sedikit memahami bahasa hewan. perlahan namun pasti, harimau itu menyingkir dari gundukan semak. Suami saya langsung mendekati semak itu dan membuka semak tersebut……ternyata….dibawah semak itu, ada seorang bayi perempuan yang kotor sekali. Darah memenuhi tubuh bayi itu.
“Mungkin  bau darah itulah yang membuat harimau itu mendekat”, cerita mbah Marju panjang lebar.
“Oh. Jadi Sri itu dari lahir saja sudah dibuang orang tuanya ya mbah? Mungkin orang tuanya sudah tahu kalau Sri bakal jadi anak yang berperangai buruk !”, seloroh Tono tanpa rasa bersalah.
“Huss !! jangan memotong pembicaraan orang, lagian mbah Marju belum selesai bercerita!”, kata Kiddy menghakimi Toni yang nyerocos memotong pembicaraan.
“Ndak papa dik, biar saya lanjutkan cerita saya, biar plong hati saya”, mbah Marju menyela.
“Setelah suami saya menemukan bayi itu, ia mohon izin pada harimau itu untuk merawatnya. Kemudian suami saya membawa bayi Sri itu pulang. Saya yang dirumah sudah ketir-ketir menunggu suami saya, sangat terkejut ketika suami saya pulang tanpa membawa kayu bakar, tapi justru membawa bayi yang belepotan darah dan bau sekali. Kata suami saya, ia meninggalkan kayu bakar di hutan, takut jatuh kalau sambil membawa bayi Sri. Sejak itu, saya mengumumkan ke warga desa, setelah sebelumnya minta izin pak lurah untu mengangkat bayi itu jadi anak saya. Karena setelah ditunggu beberapa hari, ternyata tidak ada yang mengaku kehilangan bayi. Saya rawat bayi itu dengan tulus dan iklas. Saya rela tidak makan seharian, daripada anak saya tidak makan, saya rela tidak tidur semalaman, kalau Sri sedang panas. Begitu juga suami saya. Bahkan sampai usia 15 tahun ini saja, Sri belum pernah merasakan mandi air dingin, apalagi mencuci baju di sungai. Ia paling malas bekerja. Dirumah ini, sayalah pembantu sekaligus yang mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi di hadapan warga, saya selalu menutup-nutupi kelemahan Sri. Saya takut kehilangan dia”.
“Sampai suatu hari, Sri ingin memiliki sepeda onthel baru seperti milik Suyati, anak kepala desa, yang kakaknya bunuh diri karena cintanya ditolak Sri. Jangankan membeli sepeda, menyekolahkan Sri sampai kelas 3 SD saja suami saya sudah tidak mampu. Bukan karena mbayar sekolahnya, tapi Sri selalu minta uang lebih untuk beli ini, beli itu. Sri tidak mau sekolah jalan kaki. Ia selalu naik angkot yang mbayarnya mahal. Akhirnya Sri sekolah hanya sampai klas 3 SD. Mungkin karena tidak melanjutkan sekolah itu, Sri jengkel dengan bapaknya. Ia akhirnya minta dibelikan sepeda onthel. Mana mampu ? dengan gaji yang cuma cukup untuk makan saja, rasanya sulit memenuhi keinginannya. Apalagi hutang kami banyak sekali semenjak Sri permintaanya neko-neko”.
“Meninggalnya suami saya sepuluh tahun yang lalu, diluar dugaan saya mas. Suami saya yang segar waras – wiris, tiba-tiba saya lihat sudah tidak bernafas lagi di kamar mandi belakang rumah. Waktu itu saya baru pulang dari rumah bu lurah, membantu mengupas singkong hasil panenannya. Kira-kira magrib juga waktu itu, ketika Bejo adik suami saya, yang sudah meninggal juga, sempat mendengar pertikaian antara Sri dan suami saya. Katanya Sri memaki-maki bapaknya, yang dituduh tidak memperhatikan anaknya, tidak sayang anaknya, dan macam-macam mas. Hingga akhirnya suami saya marah, dan menampar wajah Sri berkali-kali. Karena itu urusan anak dan bapak, Bejo tidak mau ikut campur. Bejo akhirnya pulang ke rumahnya dan mencuci cangkulnya. Belum selesai Bejo mencuci cangkulnya, ia mendengar teriakan mas Marju, tetapi hanya sesaat. Lalu Bejo berlari langsung menuju ke kebun belakang rumah. Disitu ia hanya sempat melihat Sri berlari kencang menjauh ke arah hutan”
“Dalam keadan sedikit gelap, Bejo memanggil nama mas Marju. Tapi yang dipanggil tidak menyahut. Sampai kemudian ia melongok kea rah jurang yang ada di belakang kebun. Ia melihat ada senter yang masih menyala, dan sarung yang sudah tidak asing lagi dilihat. Yaitu sarung mas Marju. Dengan sedikit tertatih-tatih, Bejo mencari jalan pintas di samping rumah, melewati jalan setapak yang menuju kearah tebing curam itu. Betapa terkejutnya Bejo, setelah dilihatnya ternyata mas Marju tergeletak lemah di samping batu besar yang ada di dasar jurang itu”
“Dengan sekuat tenaga, Bejo mengangkat mas Marju dengan membopongnya dan membawa naik dengan mencari jalan memutar. Sampai akhirnya sampailah di rumah saya, dan menceritakan semua yang dia lihat dan dia dengar. Bisa mas bayangkan, bagaimana sakitnya hati saya melihat keadaan suami saya. Hingga beberapa hari mas Marju saya rawat dirumah. Ia tidak mau diobati dukun, tabib, maupun pak mantra di Puskesmas” cerita mbah Marju dengan gamblangnya.
“ Lalu Sri tidak pulang mbah ?” Tanya Roni penasaran.
“Sama sekali mas, saya juga memikirkan Sri waktu itu. Kemudian sehari sebelum mas Marju meninggal, ia berpesan pada saya”.
Mbok, seandainya saya meninggal, tolong jangan menyalahkan Sri. karena semua salah saya, yang tidak becus menjadi Bapak. Maafkan dia mbok, dan rawat dia dengan baik.” begitu kata suami saya.
“Itulah mas, sampai esok harinya suami saya tidak bangun lagi, dan semua warga tahunya suami saya masuk angin beberapa hari. Sebab kematiannya tersimpan rapat oleh saya dan Bejo”, sambung bu Marju.
“Kemudian Sri pulangnya kapan mbah ?”, Tanya Roni lagi-lagi penasaran.
“Sri pulang ketika 40 hari Bapaknya. Keadaanya mengenaskan. Badannya kurus, katanya dia berjalan dari desa ke desa untuk melarikan diri. Namun tiap malam ia dibayangi kesalahannya. Antara takut pulang dan takut dosa, ia pulang ketika hari sudah gelap. Dan setelah ia menceritakan semuanya, tak kuasa saya memarahinya. Rasanya sakit hati ini sudah lenyap dengan melihat kondisi tubuhnya yang kotor dan kurus” kata mbah Marju.
“Setelah itu Sri jadi anak yang baik mas. Tapi tidak lama. Seminggu kemudian Sri kembali jadi anak yang badung dua kali lipat. Sudahlah mas saya capek menerangkan. Kalau masalah hari ini, Sri sudah memakan habis kesabaran saya, dia mendorong dan membenturkan kepala saya, ketika dia tahu maksud kedatangan mandor Larmo dari desa Kayutan. Dia menolak mentah-mentah. Dan mencaci maki semua yang ada di rumah ini. Saya malu mas, kemudian ia keluar rumah dan saya tidak tahu kemana larinya”, cerita bu Marju melas.
“Seandainya Sri pulang, apa mbah Marju mau memaafkannya ?”, tanya Prambudi yang sedari tadi diam.
“Tentu saja tidak. Betul kan mbah ?”, desak pak Giyanto yang semakin jengkel dengan Sri setelah tahu penyebab kematian pak Marju.
“Saya bingung  mas, saya akan tetap mencari Sri, dan minta maaf”, ujarnya
“Apa kamu sudah gila mbah ? Sri anak durhaka dan jahat seperti itu masih kamu bela ?” pak Giyono sedikit marah.
“Bagaimanapun saya tidak akan melanggar janji saya pada suami saya, meski sesakit apapun kenyataan yang saya terima”. Ujar Mbah Marju lirih.
“Ehem…. Maafkan saya mbah, kalau boleh saya memotong. Seandainya Sri pulang lagi, apakah mbah Marju benar-benar memaafkannya ? dan pak mandor Larmo juga memaafkan? “ tanya Kyai pelan.
“ Saya akan memaafkan dan melupakan semua salahnya”, ujar mbah Marju mantap.
Setelah melakukan perbincangan yang cukup lama, akhirnya Sri dipanggil untuk menemui Simboknya, dan sujud minta maaf. Semua serasa damai beberapa hari.
Kehadiran mahasiswa KKL tersebut ternyata menambah makmur desa Trayun. Di desa itu sudah ada listrik tenaga air terjun, ada saluran air bersih, dan masyarakat semakin sadar kesehatan diri, dan mau periksa ke dokter jika sakit.
Namun dibalik kemajuan itu, ada musibah yang sampai sekarang membuatku benci pada ibuku. Ibuku jatuh cinta pada Susanto. Mahasiswa Kedokteran yang ternyata ketika di mobil (Susanto menemani Sri di mobil saat pulang) sudah melancarkan aksi kibul pada ibuku. Ibuku yang tidak memahami konsep keperawanan, dengan dalih pemeriksaan kesehatan, akhirnya dihamili Susanto, lima hari sebelum KKL itu balik ke kota.
Nenekku kembali dilanda emosi yang tak terbendung. Ibuku di usir dan tak termaafkan lagi. Akhirnya ibuku pergi tanpa arah dan tujuan. Sampai akhirnya Ia ditemukan seorang mucikari ketika melihat ibuku yang molek, tertidur di emper toko. Dengan dalih dicarikan pekerjaan menjadi “artis” seperti cita-cita ibuku, akhirnya keterbatasan pola pikir ibuku membawa dirinya ke jurang kemaksiatan.
Dengan pakaian seksi dan dandanan menor, ibuku dijadikan “artis” sebuah Nigh Club yang memang biasa memperdagangkan wanita. Bahkan sampai bayi itu (aku) lahir, Ia masih menjadi wanita penjaja cinta. Secara ekonomi ibuku mampu menggaji pembantu untuk merawatku.
Kejadian yang membuat aku sampai saat ini trauma adalah, ketika usiaku sudah menginjak SMP, aku sering melihat ibuku membawa pulang lelaki hidung belang. Dan tanpa rasa malu sedikitpun, ibuku (maaf) pernah bercinta di depan mataku ketika aku tidur di ranjang ibuku. Kejadian yang sering kulihat dan kuamati ternyata membawa dapak yang sungguh buruk bagi kehidupanku. Aku terbiasa berpakaian seronok, bersolek, merokok, bahkan kadang mabok. Tak jarang pula aku mabok bersama ibuku…Na’udzubillahimindalik……jijik rasanya mengingat peristiwa itu.
Karena kebebasan pergaulanku-pun, aku mengalami hal yang sama dengan ibuku. Aku hampir setiap malam di ajak ibuku ke tempat-tempat hiburan, dan diperkenalkan dengan Om-om berkantung tebal, dan tampang menjijikkan. Setiap hari, ibuku menyuruhku meminum pil kecil-kecil, yang katanya untuk kesehatan. Sebelum akhirnya aku tahu, bahwa itu pil KB. Peristiwa itu berlangsung hingga aku SMA kelas 2.
Tak ada perbuatan nista yang berbuah delima. Lama kelamaan aku melihat ibuku mengeluhkan sakit perut yang tak tertahankan. Rasa sakit itu kadang membuat ibuku pingsan. Hari demi hari kulihat ibuku jarang keluar rumah. Tubuhnya yang dulu semok, semakin terkikis habis oleh penyakit kelamin. Tamu-tamu ibuku pun semakin surut. Karena ibuku tak lagi mampu melayani tamu seperti dulu. Kata om Bimo, yang suatu waktu aku layani, bilang kalau ibuku tidak memuaskan lagi, dan baunya kayak bangkai !!
Ibakah aku ? tidak !! aku tidak terlatih untuk memiliki rasa iba. Dan hal itu yang ditanamkan ibuku ketika merayu om-om yang berkantong tebal. Bahkan kadang mencuri dompet pelanggan. Sehingga ketika ibuku sakit dan meminta padaku untuk mengantar periksa pun, aku tidak mau. Aku lebih senang pergi mencari uang untuk mabok dan membeli baju-baju seksi. Raga ibuku yang semakin ringkih akhirnya tak kuat menahan deraan sakit yang memang tak di obati. Hingga suatau ketika, kulihat pemandangan memilukan itu. ibuku mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamarnya. Naasnya lagi, aku baru tahu setelah dua hari kematian ibuku. Karena aku pergi ke puncak dengan pacarku. Pembantuku lah yang mengetahuinya.
Aku pulang ketika ibuku telah dimakamkan. Tak ada beban samasekali. Bahkan ketika aku ke makam ibuku ketika tanah makam ibuku yang masih basah, karena memang baru kemarin dimakamkan. Malam harinya tidak ada doa, tidak ada tahlilah, tidak ada pengajian. Yang ada adalah kebebasanku berpesta dan mabok berat sampai pagi dengan teman-temanku yang aku undang kerumahku.  Seakan itu adalah hari kebebasanku, karena tidak ada Ibu lagi yang hampir merintih sakit perut setiap hari sejak sakit.
Setelah sekian lama aku menjalani semuanya, aku mengalami hal yang dialami ibuku dulu. Mungkin inilah yang disebut karma. AKU HAMIL TANPA SUAMI. Itulah kata-kata yang tepat untukku. Aku tidak tahu siapa yang menghamiliku. Sudah sekian banyak lelaki hidung belang yang menikmati dan menghisap kemolekan tubuhku.
Aku bingung !! aku kalut!!. hingga suatu malam, ketika aku pulang dari tempat mangkalku, berjalan sempoyongan. Aku yang dalam keadaan hamil, mabuk, dan tak bisa mengendalikan diriku. Aku merasa tubuhku ringan tak bertenaga…melayang…..dan selebihnya aku tidak ingat lagi.
Kulihat cahaya terang sekali ketika mata ini terbuka. Silau! Panas! dan tak mampu aku gerakkan tubuhku. Kulihat sekelilingku, aku tergeletak di sebuah dipan yang cukup rapi, namun serba putih. Dimana aku ? kenapa aku sendiri ?. kulihat sekelilingku…..ya ! aku benar-benar sendiri. Ingi kubangun dari ranjang ini, namun tak kuat. Kusingkap selimut yang menutup kakiku. Kulihat bercak darak di pahaku…aku kaget, namun aku belum mampu berpikir jernih. Aku mulai berpikir. apakah yang terjadi padaku ?.
Belum hilang rasa penasaranku, kulihat korden disampingku terbuka. Kulihat seorang bapak-bapak yang usianya aku tapsir sekitar 40 atau 50 tahun. Ia mendekatiku dan berkata bahwa Ia lah yang menyelamatkanku, ketika melihatku pingsan di pinggir jalan. Namanya Pak Joko.
Setelah 3 hari aku dirawat, aku disuruh pulang pak Joko. Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau mengenang masa-masa pahit kehidupan malamku. Aku mau ikut pak Joko. Akhirnya aku dibawa pulang pak Joko ke rumahnya. Dan baru aku tahu, bahwa pak Joko ternyata Carik desa Kayutan. Pak Joko masih bujang. Katanya dia tidak mau menikah karena cintanya pernah ditolak seorang wanita. Belakangan aku tahu ternyata wanita itu adalah ibuku. Singkat cerita, aku menikah dengan pak Joko atau pak Carik. Dan aku dibawanya menemui nenekku di desa Trayun.
Betapa iba aku melihat kondisi nenekku… usianya sudah 90 tahun. Aku juga bertemu dengan mbah Wiro, yang dengan semangatnya menceritakan kenakalan dan masa lalu ibuku. Aku bahagia bisa berkumpul dengan keluargaku. Meski aku tak tahu siapa Bapakku, aku juga tak tahu siapa nenekku yang asli. Mungkin sama biadabnya dengan ibuku.
Sejak itu, aku bertekad tinggal di desa Trayun. Suamiku juga setuju. Kami membangun industri kecil kerajianan tangan yaitu gerabah. Lama kelamaan karyawanku bertambah banyak. Usahaku semakin maju. Aku bahagia, nenekku sempat menikmati semuanya. Sebelum akhirnya setelah 2 tahun usahaku maju, nenekku meninggal dengan tenang. Kini aku dirumah nenekku yang sudah aku bangun cukup megah. Mbah Wiro ku ajak serta. Namun setahun kemudian, mbah Wiro menyusul nenekku ke alam Barzah.
Aku tak punya anak !! itupun tak kusesali. Rahimku terpaksa di angkat karena terjadi pembusukan rahim akibat konsumsi alkohol yang berlebihan yang  berlangsung lama. Namun yang kusesali adalah aku harus kehilangan anakku waktu aku diselamatkan suamiku. Aku keguguran !. semua kenangan itu biarlah menjadi masa laluku. Toh kalaupun lahir selamat, aku khawatir berkelakuan buruk seperti aku dan ibuku. Karena anak itu hasil hubungan gelapku dengan banyak lelaki. Suamiku pun tak mempermasalahkan kebusukan kehidupan yang aku alami, setelah kuceritakan semua yang terjadi.
Rumah tangga kami cukup bahagia. Tujuh tahun menikah, 2 kali naik Haji dengan suamiku. Sebelum akhirnya suamiku meninggalkanku untuk selamanya ketika kami melakukan perjalanan Haji ke tiga. Suamiku tercinta meninggal di Mekah, tanah suci yang penuh berkah dan ampunan, ketika suamiku sedang menjalankan Thowaf. Aku tak menyesalinya, dan aku bangga suamiku dimakamkan di tanah suci.
Sepeninggal suamiku, aku telah menjalankan Haji 2 kali. Dan Alhamdulillah, selalu saya mengajak kedua anak angkatku dan membiayai Kyai atau Ustad yang belum pernah Haji. Aku semakin bersyukur, telah kubantu warga desa membangun beberapa Masjid yang sederhana di beberapa desa. Bukan kemegahan Masjid yang menjadi sasaranku, tapi kemudahan warga mejangkau masjid. Karena desaku memang hutannya masih lebat, dan berbukit.
Waktu berjalan begitu cepat. Beberapa hari yang lalu, genap usiaku ke 60 th. Entahlah, ingin rasanya aku berbagi semua harta yang kumiliki.  Kupanggil seorang ustad dan pengacara untuk menjadi saksi. Kuberikan lahan tebu suamiku pada warga, masing-masing warga dapat jatah satu petak. Kuwakafkan rumah dan tanah pekarangan ini untuk masjid disebelah rumahku. Kuberikan industri gerabahku pada kedua anak angkatku yang masih kuliah di kedokteran UGM. Kuberikan semua perhiasanku untuk disumbangkan pada yayasan yatim piatu “SRI” (di ambil dari nama ibuku) di desa Kayutan, yang dulu dirintis suamiku. Rasanya beban ini sudah hilang, dan aku tinggal mencari harta tak ternilai. IBADAH.
“Allahu Akbar Allahu Akbar !!” suara Adzan itu merdu sekali kudengar. Meski usiaku sudah 60 tahun, masih jelas sekali kudengar panggilan Muadzin ketika mengumandangkan Adzan Magrib. Namun Adzan magrib ini kurasakan lebih indah dari biasanya. Segera ku habiskan kopiku, dan beranjak menuju masjid di sebelah rumahku. Kurasakan langkah kakiku begitu ringan dengan kesiapan hatiku sujud Sholat pada Allah SWT.
Sujudku hanya untuk-Mu Ya Allah, sujud ini, sujud ini ternyata  sujud terakhirku pada-Mu. Ketika kurasakan tiupan angin kedamaian dan malaikat Izroil membawaku berjalan menjauh dari ragaku, berjalan dengan damai meninggalkan semuanya……………
Ket:
Dipan              : tempat tidur yang terbuat dari papan kayu
Monggo           : silakan
Ketir-ketir        : khawatir
Onthel             : sepeda kayuh
Waras-wiris     : segar bugar (sehat)
Semok             : seksi dan berisi
Biodata Penulis
Nama                          :  Uswatun Hasanah, S.Pd, M.Pd
NIP                             :  197607302001122003
Instansi                        :  SMA N I Purwantoro Wonogiri Jawa Tengah
Alamat                         : Jalan Raya Tegalrejo Purwantoro. Phone (0273) 415124.    Pos 57695
Telp/Hp                      :  (0273) 415193. 081393806806

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About